Black Box atau Kotak Hitam

Posted: May 16, 2012 in IPTEK

Kotak hitam
Kotak hitam atau black box adalah sekumpulan perangkat yang digunakan dalam bidang transportasi – umumnya merujuk kepada perekam data penerbangan (flight data recorder; FDR) dan perekam suara kokpit (cockpit voice recorder; CVR) dalam pesawat terbang.

Fungsi dari kotak hitam sendiri adalah untuk merekam pembicaraan antara pilot dan pemandu lalu lintas udara atau air traffic control (ATC) serta untuk mengetahui tekanan udara dan kondisi cuaca selama penerbangan. Walaupun dinamakan kotak hitam tetapi sesungguhnya kotak tersebut tidak berwarna hitam melainkan berwarna jingga (oranye). Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pencarian jika pesawat itu mengalami kecelakaan.

Penempatan kotak hitam ini dilakukan sedemikian rupa sehingga mudah ditemukan. Umumnya terdapat dua unit kotak hitam yang diletakkan pada bagian depan pesawat dan bagian ekor pesawat, yang diyakini merupakan bagian yang utuh ditemukan.
Asal Penemuan

Terdapat berbagai versi dalam penemuan kotak hitam atau alat perekam dalam dunia penerbangan. Terlebih lagi ketika kecelakaan pesawat terbang, seringkali pesawat hancur sehingga sulit dicari sebab kecelakaan tersebut. Hal tersebut mendorong Dr.David Warren, seorang ahli ledakan, membuat alat yang dapat merekam semua informasi sebelum terjadi kecelakaan.

Idenya diambil dari sebuah alat tape recorder yang berukuran saku, dan disain dibuat di Australia, untuk dilanjutkan menjadi alat yang merekam semua arus komunikasi dalam penerbangan. Alat ini ini bisa merekam suara pilot dan semua data yang diterima dari 8 alat yang berbeda. Semua data ini bisa dipisah dan menghasilkan data yang akurat tentang penyebab kecelakaan. Alat ini kemudian dirancang untuk digunakan dalam perawatan dan pemeliharaan pesawat. Sehingga diketahui bagian mana yang mengalami tekanan.

Alat rekaman ini kemudian dimasukkan dalam kotak baja yang kuat untuk menjaga agar tidak ikut hancur ketika kecelakaan pesawat. Kotak ini kemudian dilapisi asbes tahan api sehingga kabel-kabelnya tidak ikut rusak karena panas.

Cockpit Voice Recorder (CVR) Sukhoi Superjet 100 telah ditemukan, sedang Flight Data Recorder (FDR) masih dicari. Keduanya merupakan komponen black box. Apa sih beda keduanya?

Berikut data-data yang didapatkan saat detikcom mengulas black box dan wawancara Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT):

Baik CVR dan FDR terdiri dari tiga bagian. Pertama adalah kotak yang menghubungkan black box dengan instrumen yang akan direkam. Kedua adalah kotak tempat alat untuk merekam berada seperti kaset, CD, atau chip. Sedangkan yang bundar adalah Underwater Locator Beacon (ULB) yang bisa dilacak sinyalnya apabila pesawat jatuh ke dalam air.

CVR

Sesuai namanya, CVR ini merekam data-data percakapan pilot di dalam kokpit. Menurut analis dan investigator kotak hitam Nugroho Budi, CVR ini ada 4 saluran yang merekam percakapan:

Saluran 1 terhubung dengan pengeras suara yang biasa digunakan pramugari kepada penumpang Saluran 2 terhubung dengan co-pilot
Saluran 3 terhubung dengan pilot yang terhubung dengan air traffic controller (ATC)
Saluran 4 merekam seputar suasa kokpit, misalnya mesin yang berisik atau hujan.

“Singkatnya CVR adalah perekam yang dihubungkan dengan sistem audio,” jelas Budi.

Menurut Investigator In Charge (IIC) untuk kecelakaan SSJ 100, Prof Mardjono Siswosuwarno, CVR itu juga bisa merekam suara-suara instrumen di kokpit.

“Paling tidak ada 3 kanal kita dengarkan. Apa yang terdengar di kokpit itu instrumen juga bisa didengarkan, bunyi alarm dan lain-lain. Pembacaan seminggu mudah-mudahan selesai,” jelas Mardjono yang juga guru besar Teknik Penerbangan ITB ini.

Sementara menurut Kasubag Pelayanan Investigasi dan Penelitian KNKT, Moch Haryoko pada 2007 lalu, durasi perekaman untuk CVR adalah 30 menit. Maksudnya setiap 30 menit data percakapan akan terhapus dan diganti dengan yang baru secara otomatis.

FDR

FDR ini merekam data-data penerbangan. Menurut Moch Haryoko, alat ini merekam data-data teknis pesawat seperti ketinggian, kecepatan, putaran mesin, radar, auto pilot dan lain-lain. Ada 5 sampai 300 parameter data penerbangan yang direkam dalam black box ini.

FDR mempunyai durasi rekaman hingga 25-30 jam. Artinya setelah 25-30 jam, data akan terhapus dengan sendirinya. CVR dan FDR ini akan hidup secara otomatis apabila mesin pesawat dihidupkan.

Kendati merekam data-data penerbangan, FDR ini tidak kalah penting. “FDR sangat perlu karena membaca ketinggian pesawat,” jelas Mardjono.

Data yang diperoleh lantas ditampilkan dalam bentuk grafik maupun transkrip apabila data tersebut berupa percakapan. Kemudian data bisa divisualkan dengan animasi melalui software, yang salah satunya bernama Insight View. Dengan demikian bisa diperkirakan posisi pesawat terakhir sebelum kecelakaan.

Dalam laporan final KNKT yang bisa dilihat di situsnya, KNKT membandingkan antara data CVR dan FDR tersebut. Misalnya saat pilot meminta pada ATC, saat itu ketinggian pesawat berapa dan kecepatan angin berapa.

Hal ini bisa dilihat dalam laporan final KNKT, seperti kecelakaan Merpati Nusantara Airlines dengan pesawat MA-60 di Kaimana 7 Mei 2011 lalu. KNKT menyusun kronologi data CVR dan FDR ini dalam tabel berlini masa UTC/Coordinated Universal Time.

Dalam detik-detik kecelakaan, kolom UTC Time ditulis “0448.43”, sedang di CVR kala Enhanced Ground Proximity Warning Systems (EGPWS) atau Terrain Awareness and Warning System (TAWS) alias sistem untuk mengindari tumbukan pesawat berbunyi, KNKT menuliskan kolom CVR seperti: EGPWS sounded “two hund….” followed by warning “terrain, terrain”.

Sedangkan di sampingnya, data dalam FDR, KNKT menuliskan, “151 feet radio altitude, 158 knotsairspeed, bank angle 28 to the left,70% left and 82% right engine torque, heading 301 degree, vertical speed 2944 fpm down”.

Dengan demikian apa yang dilakukan pilot di dalam kokpit dengan kondisi lingkungan eksternal pesawat bisa diketahui.

Kedua jenis peranti ini dilengkapi Underwater Locator Beacon (ULB) yang bisa mendeteksi bila pesawat ini jatuh ke laut. ULB ini merupakan transmitor yang akan memancarkan gelombang akustik untuk memudahkan pendeteksian.

Black box sengaja didesain untuk tahan air, tahan benturan, dan tahan panas. Benda ini bisa tahan air sampai dengan 2 bulan. “Tahan panas bisa sampai 1.000 derajat, tapi dalam waktu terbatas, tidak terus menerus seribu derajat. Kalau black box rusak itu artinya rusak luarnya. Memorinya tidak,” terang Budi.

Black box juga diberi warna mencolok, oranye, sesuai standar ICAO dan agar mudah ditemukan. “Black box adalah sesuatu yang hitam, diartikan sesuatu yang mengandung misteri. Kenapa warnanya oranye? Karena itu yang paling mencolok di mata. Warnanya tidak kamuflase,” ujar Budi.

Kedua black box ini juga ditaruh di bagian belakang, tepatnya di bagian ekor pesawat. “CVR dan FDR diletakkan di bagian pesawat yang paling aman yaitu di ekor pesawat. Di ekor karena kalau ada apa2 dia tidak frontal. Sudah ada studi bahwa area yang paling aman adalah bagian ekor pesawat,” terang Budi.

Masalah lain adalah ketika kekhawatiran pembicaraan para pilot selama penerbangan tersiar ke masyarakat umum dan disalahgunakan. Untuk mengatasi ini, dibuatkan komputer khusus yang disambungkan ke perekam. Dengan bantuan grafik, bisa dihasilkan gambar dari setiap kejadian.
Sumber:Detik.com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s